Sabtu, 17 Desember 2011
Rabu, 14 Desember 2011
Rabu, 07 Desember 2011
Senin, 05 Desember 2011
Minggu, 04 Desember 2011
Sabtu, 03 Desember 2011
Jumat, 02 Desember 2011
Senin, 28 November 2011
Senin, 21 November 2011
Minggu, 20 November 2011
Sabtu, 19 November 2011
Jumat, 18 November 2011
Cerita Gay Homo Kontol, Sebetulnya aku ingin sekali menyebut nama atau inisial seorang aktor sinteron action yang akhir-akhir ini sering minta aku “kawal”. Maksudnya agar para Pembaca bisa lebih menghayati dan juga lebih menikmati kisahku. Tapi apa daya, aku harus berpegang pada moral dan etik dan harus menjaga nama baik serta kehormatan si aktor ganteng ini. Oleh karena itu, agar mudahnya, dalam kisah ini aku akan menyebutnya sebagai Si Rupawan.Jika dia sedang minta aku kawal, maka dia selalu menyuruh manajer dan asistennya untuk pulang dan kami pergi berduaan saja. Aku hanya mengawal dia kalau dia sedang tidak ada cara shooting. Tugasku adalah menyetir mobilnya dan kadang-kadang juga disuruh-suruh seperti pelayan. Karena aku berjiwa slave dan doyan s/M, aku tidak merasa keberatan untuk dibudakin atau dikacungin, apalagi oleh aktor yang rupawan dengan tubuh yang ketat dan atletis itu. Aku bangga melayani cowok seganteng dia!. Apalagi, setiap selesai mengawal dia, aku harus mengantar ke apartemennya dan disana aku pasti harus melakukan blow-job, alias mengisap kontolnya yang besar dan dilatarbelakangi jembut yang hitam dan tumbuh lebattt. Mungkin kira-kira seperti pertumbuhan jembut Bang Arief Suditomo. Di samping berkhayal tentang Irgi Achmad Fahrezi, aku juga sering berfantasi menyedot kontol Bang Arief Suditomo yang terkenal ganteng banget itu!Si Rupawan ini tidak sunat atau belum sunat. Tapi kulup atau foreskin-nya tidak begitu panjang. Jadi kepala kontol atau glans-penisnya tidak tertutup kulup. Sepintas lalu dia seperti sudah disunat. Kulup seperti itu dalam istilah Jakarta disebut : terkelet. Karena dia tampak seperti sudah sunat maka aku tak keberatan menghisap kontolnya. Sebab aku paling anti kontol yang tidak sunat (uncut). Kontol yang uncut biasanya sering bau smegma atau bau tai-kulat. Aku yakin bahwa Irgi Achmad Fahrezi dan Bang Arief Suditomo pasti sudah sunat waktu kecil! Mereka sudah jadi laki-laki sejati!Suatu kali Si Rupawan mengatakan bahwa dia ingin disunat. Aku bilang bahwa kontolnya kelihatannya seperti sudah sunat.”Tapi aku belum sunat”katanya Lalu aku tanya, “Kenapa Mas ingin sunat?”. Dia menjawab “Supaya tambah macho dan terhindar dari AIDS!”. Dia mengatakan bahwa semua binaragawan profesional di Eropa disunat, karena mereka menganggap bahwa sunat merupakan penyempurnaan kelaki-lakian mereka atau tanda kesempurnaan seorang laki-laki.Si Rupawan mendesak agar aku mencarikan dokter yang mau menyunatnya. Dia mendengar dari seorang rekannya sesama aktor,bahwa Rizal pernah membantu seorang pemain sinetron action (setengah bule) untuk mencarikan dokter yang mau menyunat.Lalu Si aktor setengah bule disunat di rumah Rizal. Para selebritis tidak mau disunat di rumah sakit atau klinik karena takut beritanya bocor ke media masa dan di blow up.Aku minta Rizal (Jose Rizal) agar minta tolong pada Dr.Rizki teman Rizal latihan karate untuk membantu. Dr. Rizki menyunat dengan metode cincin yang tidak sakit, tidak berdarah,dan pasien dapat segera beraktifitas serta lebih cepat sembuh.Demikianlah, akhirnya kami putuskan Si Rupawan disunat di apartemennya sendiri. Di samping lebih aman juga lebih leluasa dan ada AC-nya jadi tak perlu kepanasan. Dr. Rizki bersedia menyunatnya. Dipilih hari kerja dan siang hari agar penghuni-penghuni apartemen lainnya ada di tempat kerja.Pada waktu Si Rupawan disunat, dia minta ditemani aku (Johan Pahlawan) dan temanku yang sekaligus pacarku Rizal (Jose Rizal).Aku dan Rizal terpaksa harus minta izin untuk terlambat masuk kantor agar bisa mengurus sunatan rahasia Si Rupawan ini. Secara diam-diam Si Rupawan juga minta agar sehari sebelum Hari-H aku nginap di apartemennya.Permintaan menginap ini bikin aku repot.Aku risih dan merasa tidak enak dengan Rizal, karena kami berdua (aku dan Rizal) sudah going steady atau menurut istilah ABG – sudah jadian. Waktu aku rundingkan dengan Rizal, dia tidak keberatan dan mengatakan : “Nggak apa-apa, lu nginep aja di apartemennya”. Aku agak kecewa, karena Rizal seperti tidak cemburu, tidak care dan tidak punya sense of belonging terhadap aku. Pola hubunganku dengan Rizal memang aneh. Kami dekat dan bersatu bagaikan suami-isteri, tapi Rizal tidak perduli kalau aku main dengan cowok lain. Sebaliknya, dia juga tidak mau aku ganggu kalau dia main dengan cowok lain. Karena Rizal tidak care, aku putuskan untuk memenuhi permintaan Si Rupawan menginap di apartemennya sehari sebelum dia disunat.Aku disuruh datang jam 18:00. Dia memesan makan malam dari restoran atau kantin yang ada di gedung apartemen itu. Kami makan malam berdua.Di meja makan, aku disuruh duduk di sampingnya dan sepanjang makan dia reseh sekali. Bolak balik menciumi dan melumat bibirku. Aku tidak melawan dan tidak protes. Tapi makanku jadi terganggu.Tidak puas mengganggu aku dengan cipokan-cipokan pada bibirku, dia berbuat lebih gila lagi. Dia menghirup minuman lalu dia mencipok mulutku dan aku harus menyedot minuman itu dari mulutnya. Dia mau lebih gila lagi dan berbuat begitu dengan makanan. Sepanjang makan malam itu, makanan dan minumanku harus lewat mulutnya dulu, setelah itu baru dia melumatkan ke mulutku. Diperlakukan cara begitu, kontan kontolku jadi ngaceng berat.Setelah makan dia tanggalkan pakaiannya di ruang TV sampai telanjang bulat. Aku jadi sesak karena dirangsang oleh pemandangan cowok ganteng, tinggi besar kekar, putih, berotot, bertelanjang-bulat dengan kontol yang besar dan dengan jembut serta bulu ketiak yang hitamm dan lebbatt. Setelah itu dia menyuruh aku menjilati tubuhnya yang agak lengket dan asin karena sedang berkeringat.Kemudian, dia minta aku melayani pelampiasan nafsu sexualnya. Dia bilang sesudah sunat, dia harus puasa sex selama dua minggu dan hal itu berat buat dia. Karena itu dia ingin memuaskan nafsunya malam itu. Gila!Dia menelanjangi aku sampai aku bugil telanjang bulat dan tak berpenutup selembar benang pun!. Aku disuruh menelentang dan dia mengambil posisi 69. Dia memaksa aku mengisap kontolnya dan juga menjilati lobang pantatnya. Dia juga sibuk menyedot kontolku dan menjilati lobang pantatku.Perbuatan nya membikin aku geli dan menggeliat. Rupanya itu membikin dia terangsang dan begitulah akhirnya terjadi gerakan harmonis aku dan dia saling isap kontol dan jilat lobang pantat. Terus menerus sampai kami tak bisa mempertahankan pejuh kami untuk tidak keluar. Dia memberi isyarat dengan menggesekkan bagian depan tubuhnya.Lalu kami atur agar dalam posisi 69 itu pejuh kami muncrat bersama dan..akhirnya. Agh,dia mendesis kaget dan CRROTT…CRROTT..CRROTT.. pejuh kami menyembur dan muncrat bersamaan. Kontol kami berdenyut-denyut dengan spontan memompakan lendir surgawi yang nikmaat bukan alang kepalang itu.Malamnya pukul dua, aku dia bangunkan lagi untuk melakukan blow-job untuk dia – dalam posisi 69. Pejuhnya dan pejuhku muncrat lagi bersama. Cerita sex sesama jenis bisa anda nikmati lainya di ceritaserudewasa.info Tiga jam kemudian, waktu subuh, dia masih minta lagi untuk disedot kontolnya.Anehnya dia masih sanggup keluar pejuh kental sampai tiga kali tanpa lemes, walaupun dia tampak mengantuk.Besoknya, sesudah mandi dia minta aku mencukur rambut ketiaknya dan merapikan jembutnya. Aku bahagia sekali. Bulu ketiaknya tidak aku cukur tapi aku cabuti satu persatu dengan pinset sampai bersih gundul. Lalu jembutnya aku “trim” agar tampak rapi.Lalu dia mengenakan kamer-jas tipis tanpa pakaian dalam. Waktu Dr. Rizki datang, dia menelentang di atas tempat tidur dan tali pinggang kamer jas-nya di buka sehingga bagian depas tubuhnya telanjang.Hanya tiga menit kontol aktor ganteng itu sudah rapih disunat.Setelah Dr. Rizki dan Rizal pulang, Si Rupawan mengatakan dia mau bertelanjang-bulat saja sampai luka sunatnya sembuh. “Silahkan” kataku. Rizki telanjang bulat sepanjang hari di apartemnnya samapi luka sunatnya kering.
Kamis, 17 November 2011
Rabu, 16 November 2011
Bagian 2
Calvin tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan disenggamai oleh cowok sejantan Andre seperti hari ini. Tiba-tiba ia tersadar, mengapa cowok sejantan Andre bisa menyenggamainya dengan penuh nafsu seperti ini. Apakah Andre seorang gay? Lalu bagaimana dengan Cindy, kekasihnya?
“Mengapa elo lakukan ini pada gue Ndrehhh?” tiba-tiba terlontar saja pertanyaan itu dari bibirnya.
Ia sebenarnya tak mengharapkan Andre akan menjawab pertanyaannya itu. Ia khuatir Andre akan menghentikan genjotannya oleh pertanyaannya yang tak pantas pada momen indah seperti ini. Namun tanpa diduganya, diantara genjotannya yang tak berhenti Andre berbisik di telinganya,
“Karena gue tahu elo menginginkannya Calvin manisshhh…,”
“Maksudhh elohhhkhhh,” Calvin kembali bertanya.
“Jangan purah-purah.. Ssshhh…, Vin…, Oh. Guehhh, tahuuhhh, kontol elo selalu ngaceng setiap gue boncenghhh… Ohhh. Danhh eohshhh… Eloh selalu, salah tingkahkhhh… Setiap ngomong ke guehhhshhh. Itu artinya elohh… Minta gue entotthhh… Ahhh,”
Calvin tersenyum malu, ternyata Andre menyadari sikapnya selama ini.
“Untunglah ternyatahhh elo gay Ndre… kalau enggakhhh… Aouhhh… Gue maluhhh bangethhh…,”
“Ohhh… Ahhh… Siapa bilanghhh.. Gue gayhhh… Ouhhh..,”
“Buktinya elohhh entotihhh guehhh nihhh… Ouhhh,”
Tiba-tiba Andre menghentikan genjotannya, ia mencabut kontolnya dari Calvin.
“Kok diberentiin Ndrehhh?” tanya Calvin bingung.
Ia menyesal mengeluarkan kata-kata itu sehingga akhirnya Andre menghentikan perlakuannya. Andre duduk di lantai menatap Calvin tajam. Calvin salah tingkah dan merasa sangat menyesal. Tiba-tiba Andre tersenyum. Calvin menjadi bingung. Ia menatap mata Andre dengan takut-takut. Ada apa ini?
“Calvin, lo jangan salah sangka ya. Bukan berarti kalau sekarang gue ngentot elo itu artinya gue gay kawan,” kata Andre sambil mengelus dagu Calvin.
“Maksud elo?”
Andre tersenyum lagi. Diambilnya celana dalam putih miliknya dari lantai, lalu ia mengusap keringat di dahi Calvin dengan celana dalam itu.
“Gue boleh cerita ke elo?”
“Terserah elo, tapi entar elo lanjutin lagi kan?” jawab Calvin malu-malu.
Andre tertawa, diciumnya bibir Calvin lembut.
“Pasti sayang. Lobang pantat elo bikin gue gila tahu,” Calvin tersenyum senang mendengarnya.
Kemudian Andre mulai bercerita pada Calvin, tentang anak-anak anggota Tim Basket sekolah yang sering melakukan kegiatan sex sejenis.
“Meski bukan homosex, gue dan teman-teman tim basket doyan ngentotin lobang pantat cowok Vin. Apalagi kalau cowoknya masih perjaka dan ganteng kayak elo,” kata Andre cengar-cengir.
“Biasanya abis latihan basket, anak-anak yang nafsu berat langsung aja ngentot di kamar mandi sekolahan. Mereka cuek aja, meskipun di sekitarnya yang lagi mandi ngeliatin sambil ketawa-ketawa. Soalnya sudah biasa,”
“Masak sih? Bebas banget ya. “
“Kan cowok semua. Ngapain malu. Semuanya juga sama-sama punya kontolkan. Yang paling seru kalau kita ngentot rame-rame abis latihan di tengah lapangan basket Vin. Masih keringetan semua tuh. Wuihh, asyik banget Vin…, hehehe,”
“Semuanya ngentot?”
Calvin terangsang banget membayangkan anak-anak tim basket yang ganteng-ganteng dan atletis itu, rame-rame ngentot dalam keadaan tubuh penuh keringat di lapangan basket. Ia jadi enggak sabaran ingin gabung juga.
“Yup,”
“Termasuk si Randy?” tanya Calvin dengan mata mengernyit tak percaya.
Selama ini ia mengenal Randy sebagai seorang anak yang pendiam di sekolah. Kalau ada kegiatan ia paling rajin jadi panitia.
“Hehehe, pastilah. Awalnya sih dia enggak mau, sama kayak gue dan anak-anak yang lain. Tapi sekarang dia paling doyan tuh,”
“Kok bisa begitu sih Ndre?”
“Awalnya dari kegiatan penerimaan anggota baru Vin. Setiap awal semester kan ada seleksi bagi murid-murid yang ingin gabung ke tim basket. Setelah lulus seleksi kemampuan basket yang sangat ketat, calon anggota baru wajib mengikuti inaugurasi. Acaranya kita buat tengah malam di sekolah. Nah disanalah anggota baru diperkenalkan dengan sex sejenis Vin. Kebiasaan seperti ini sudah sejak kapan tahu Vin. Gue juga cuman nerusin doang,”
“Enggak pernah ketahuan?”
“Kalau Tim Basket bikin acara di sekolah, kan urusannya gampang. Guru-guru sudah percaya banget sama kita Vin. Jadi enggak pernah diawasin,”
“Pak Hendro yang jaga sekolahan gimana?”
“Setiap acara dia kita kasih duit. Jadinya dia enggak peduli kita mau ngerjain apa di sekolah. Dia percaya anak-anak Tim Basket bisa jagain sekolah. Lagian kalau kita ada kegiatan di sekolah, dia lebih punya kesempatan untuk tidur pulas di rumahnya di samping sekolahan,”
“Oo, gitu ya. Terus?”
“Di acara inaugurasi itu, setiap anggota baru dilarang untuk berpakaian. Semuanya wajib telanjang bulat selama acara. Mereka dikumpulin di dalam ruangan kelas, diputerin film bokep sambil disuruh minum minuman keras sampai mabok. Elo bayangin aja, cowok horny dalam keadaan mabok, disuruh apa aja kan mau, hehehe. Nah pas begitulah mereka dikerjain sampai senior puas,”
“Diapain aja mereka?”
“Terserah seniornya. Ada yang disuruh ngulum-ngulum batang kontol. Ada yang dientotin. Biasanya kalau kontol mereka gede, para senior paling suka. Enak buat dikulum dan rasanya enak banget kalau kita bisa merasakan kontol gedenya nyodok-nyodok lobang pantat kita. Lo tahu Wisnu kan?”
“Anak Bali yang ganteng itu?”
“Yoi,”
“Taulah. Dia kelas dua kan sekarang, kenapa dia?”
“Tuh anak, paling disukai ama kita-kita. kontolnya gede banget Vin, kalau gua enggak salah panjangnya sampai dua puluh senti. Bentuknya gemuk dan urat-uratnya jelas banget,”
“Gila. Elo pernah ngerasain punya dia juga? enggak sakit?”
“Hehehe, sudah dong. Semua anak basket sudah pernah ngerasain punya dia. Sakit sih awalnya, tapi kalau sudah dikocok di dalem lobang pantat, enak banget Vin. Gua nagih sampai sekarang. “
“Dasar lo. Ngomong-ngomong, waktu elo jadi anggota baru dulu, yang ngerjain elo pertama kali siapa?”
“Si Doni. tahu kan?”
“Doni? Yang mantan Ketua OSIS sebelum elo itu?”
“Yoi. Gue kan di kader ama dia. Doni itu, suka banget manggil gue ke kelas pas sedang belajar. Paling enggak seminggu bisa tiga kali. Alasannya ke guru mau bicarain soal kegiatan sekolah yang diperintahkan Kepsek. Padahal begitu nyampe di ruangan OSIS enggak ada yang dia kerjain selain ngembat lobang pantat gue aja. Kalaupun emang ada rencana kegiatan sekolah, ya dia bicarainnya sambil genjot pantat gue,”
“Dasar. enggak nyangka deh gue. Padahal kan dia pacarnya banyak,”
“Iyalah. Dia doyan banget sama vagina. Semua anak basket juga doyan vagina. Gue aja doyan banget ama vagina Cindy. Tapi gue dan teman-teman gue yang lain juga doyan ama yang namanya lobang pantat cowok ganteng kayak elo,” kata Andre sambil nyengir. Calvin mesem.
“Abisnya lobang pantat tuh rasanya lebih seret dari vagina. Lagian kalau ngembat lobang pantat enggak ada resiko hamil kan. Tapi kalau ngembat vagina harus hati-hati, salah-salah gue disuruh nikah masih sekolah gini. Ngentot ama cewek juga enggak bisa disembarang tempat dan waktu kan. Lagian jarang-jarang cewek yang mau diembat lobang pantatnya. Tapi kalau ngentot ama cowok bisa kapan aja saat nafsu kita naek. Siapa yang curiga kalau dua cowok masuk kamar mandi sekolahan bareng-bareng. Paling dikirain mau kencing doang, padahal mau kencing enak, hehehe,” Calvin nyengir dengan komentar Andre.
“Lo enggak merasa risih ngentot ama cowok Ndre?”
“Awalnya sih iya. Tapi kalau sudah dirangsang yang namanya kontol kan pasti ngaceng. kalau kontol sudah ngaceng ya mau gimana lagi. Lobang apa aja bakalan kena embat,”
“Lo enggak takut apa, kalau keseringan dientot menyebabkan lobang pantat elo dower. Gimana kalau cewek lo tahu?”
“Cuek aja Vin. Cewek enggak doyan ama pantat. Lobang pantat kan buat konsumsi cowok. kalau cewek dia doyannya sama yang ini,” jawab Andre sambil mengacung-ngacungkan kontolnya ke muka Calvin.
“Hehehe, benar juga Ndre,”
“Siniin lobang pantat lo. Gua ingin ngelanjutin, yang tadikan nanggung banget,” kata Andre.
Ia menarik pinggang Calvin dan mendudukkannya berhadapan diatas pangkuannya. Mereka tertawa mesra, saling mengelus tubuh masing-masing, dilanjutkan dengan saling melumat bibir dengan penuh nafsu. Pelan-pelan Calvin menduduki batang kontol Andre yang berdiri tegak sekeras kayu, memasukkannya ke dalam lobang pantatnya. Setelah batang kontol itu masuk seluruhnya, Calvin mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Andre membalas dengan menggoyangkan pantatnya juga. Mereka bergoyang seirama dengan cepat dan keras. Menimbulkan bunyi tepukan yang memenuhi ruangan. Mereka mengerang, mendesah, menjerit.
“Ouhhh… Ouhhh… Lo makin pinter Vin,”
“Ndre… Ohhh… Enak.. Bangethhh… Ndrehhh… Ohhh,”
“Vinhh… Ohhh, … Jangan bilang-bilang… Ihhh… Kehhh… Cindy ya Vinhhh… Shhh…”
“Bilangin… Ohhh… Apahhh… Ndrehhh?”
“Bilangin… Ahhh… Ahhh… kalauhhh… Guehhh… Entot… Elohhh…,”
“Gue bilanginhhh… Ahhh… Shhh… Shhh…,”
“Janganhhh… Donghhh…,”
“Enakahnannn.. Manahhh.. Ama.. vagina.. Cindyhhh..?”
“Enakan vagina cindyhhh… Ouhhh…,”
“Gue bilangin ke diahhh… kalauhh… Gituhhh… Ouh…,”
“Sorryhhh… Salah… Aouhhh… Enakan pantat elohh… Kokgkhhh… Ohhh.. Ohohhh…,”
“Gombal…, ohhh… Yahhh… Disituhhh… Ndrehhh, … Ohhh…,”
“Suer… Ohhh… Ohhh… Ohhh…,”
Rencana belajar bersama terlupakan sudah oleh mereka. Andre akhirnya menginap di rumah Calvin malam itu. Berkali-kali mereka mengulang persenggamaan memuaskan birahi yang menggelora hingga pagi menjelang. Lidah mereka sudah sangat mengenal lekuk tubuh masing-masing. Bergantian mereka saling menindih dan menyelipkan batang kontol di lobang pantat temannya. Saat orgasme datang, sperma remaja mereka berceceran membasahi karpet dan sprei tempat tidur, mengalir turun melalui paha kokoh mereka dari lobang pantat yang mendenyut-denyut.
Mereka baru tersadar bahwa persetubuhan itu harus dituntaskan ketika tiba-tiba telepon genggam Andre berdering di pagi hari. Saat itu Andre sedang menungging pasrah dengan kedua tangan memegang tepi ranjang, sementara diatasnya Calvin sedang merem melek keenakan, pantatnya bergoyang-goyang mengeluar masukkan batang kontolnya di lobang pantat Andre.
“Halohhh,” kata Andre
“Ndre, lo enggak jemput gue pagi ini? Ini sudah hampir jam tujuh tahu,”
“Cindy yah?!! Sorry Cin, shhh… Gue baru bangun nih. Soalnyaahh gue kemaleman abis belajar bareng Calvinshhh. Elo berangkat sendiri aja ya. Soryy banget sayang… Shhh,”
“Lain kali kasih tahu dong, jadinya gue kan telat juga nih. Elo lagi ngapain sih? Kayak kepedesan gitu?!!,”
“Iyah.. Shhh…, pedessshhh. Lagi makan rujak sayanghhshhh…,”
“Makan rujak kok pagi-pagi sayang? Nanti mules perutnya,”
“Iyahh.. Ohh.. Perut guehhh… Rasanya mulas banget.. Nihhh… Shhh..,”
Calvin hanya tersenyum-senyum mendengar pembicaraan Andre melalui telepon. Andre tak berbohong mengatakan bahwa perutnya sedang mules saat itu. Genjotan Calvinlah yang membuat perut Andre terasa mules.
Andre masih berbicara dengan Cindy melalui ponsel. Sementara Calvin tak menghentikan genjotannya. Ia malah semakin mempercepatnya, karena ia ingin segera mencapai orgasmenya. Calvin tak ingin telat tiba di sekolah. Sambil memegang ponsel di tangan kanan, Andre mengocok batang kontol dengan gerakan yang cepat menggunakan tangan kirinya. Tak sampai semenit akhirnya kedua cowok itu mengerang keras. Batang kontol mereka berdenyut-denyut menyemprotkan sperma.
“Ohohohhhrrrhgggh…,” erang Andre dan Calvin berbarengan.
“Kenapa Ndre? Kenapa?” suara Cindy diseberang sana.
“Sudah keluar sayanghhh… Ohhh… sudah keluar…,” desah Andre.
“Sudah keluar? Syukurlah. Lebih longgar kan rasanya?”
“Iya sayanghhh… Ohhh…,”
Cindy mengira Andre sedang buang air akibat mulesnya. Ia tak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada Andre saat itu. Ia tak mengetahui bahwa saat itu kekasihnya sedang menikmati orgasmenya diantara semburan sperma Calvin didalam lobang pantatnya.
“Kalau gitu oke deh. Sampai nanti ya sayang,” Cindy menutup teleponnya di seberang, klick.
Andre langsung melemparkan ponsel ke atas ranjang. Selanjutnya tubuhnya yang berkeringat ambruk diikuti oleh tubuh Calvin yang juga basah kuyup menindihnya. Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hanya deru nafas mereka saja yang terdengar memburu memenuhi ruangan.
“Mengapa elo lakukan ini pada gue Ndrehhh?” tiba-tiba terlontar saja pertanyaan itu dari bibirnya.
Ia sebenarnya tak mengharapkan Andre akan menjawab pertanyaannya itu. Ia khuatir Andre akan menghentikan genjotannya oleh pertanyaannya yang tak pantas pada momen indah seperti ini. Namun tanpa diduganya, diantara genjotannya yang tak berhenti Andre berbisik di telinganya,
“Karena gue tahu elo menginginkannya Calvin manisshhh…,”
“Maksudhh elohhhkhhh,” Calvin kembali bertanya.
“Jangan purah-purah.. Ssshhh…, Vin…, Oh. Guehhh, tahuuhhh, kontol elo selalu ngaceng setiap gue boncenghhh… Ohhh. Danhh eohshhh… Eloh selalu, salah tingkahkhhh… Setiap ngomong ke guehhhshhh. Itu artinya elohh… Minta gue entotthhh… Ahhh,”
Calvin tersenyum malu, ternyata Andre menyadari sikapnya selama ini.
“Untunglah ternyatahhh elo gay Ndre… kalau enggakhhh… Aouhhh… Gue maluhhh bangethhh…,”
“Ohhh… Ahhh… Siapa bilanghhh.. Gue gayhhh… Ouhhh..,”
“Buktinya elohhh entotihhh guehhh nihhh… Ouhhh,”
Tiba-tiba Andre menghentikan genjotannya, ia mencabut kontolnya dari Calvin.
“Kok diberentiin Ndrehhh?” tanya Calvin bingung.
Ia menyesal mengeluarkan kata-kata itu sehingga akhirnya Andre menghentikan perlakuannya. Andre duduk di lantai menatap Calvin tajam. Calvin salah tingkah dan merasa sangat menyesal. Tiba-tiba Andre tersenyum. Calvin menjadi bingung. Ia menatap mata Andre dengan takut-takut. Ada apa ini?
“Calvin, lo jangan salah sangka ya. Bukan berarti kalau sekarang gue ngentot elo itu artinya gue gay kawan,” kata Andre sambil mengelus dagu Calvin.
“Maksud elo?”
Andre tersenyum lagi. Diambilnya celana dalam putih miliknya dari lantai, lalu ia mengusap keringat di dahi Calvin dengan celana dalam itu.
“Gue boleh cerita ke elo?”
“Terserah elo, tapi entar elo lanjutin lagi kan?” jawab Calvin malu-malu.
Andre tertawa, diciumnya bibir Calvin lembut.
“Pasti sayang. Lobang pantat elo bikin gue gila tahu,” Calvin tersenyum senang mendengarnya.
Kemudian Andre mulai bercerita pada Calvin, tentang anak-anak anggota Tim Basket sekolah yang sering melakukan kegiatan sex sejenis.
“Meski bukan homosex, gue dan teman-teman tim basket doyan ngentotin lobang pantat cowok Vin. Apalagi kalau cowoknya masih perjaka dan ganteng kayak elo,” kata Andre cengar-cengir.
“Biasanya abis latihan basket, anak-anak yang nafsu berat langsung aja ngentot di kamar mandi sekolahan. Mereka cuek aja, meskipun di sekitarnya yang lagi mandi ngeliatin sambil ketawa-ketawa. Soalnya sudah biasa,”
“Masak sih? Bebas banget ya. “
“Kan cowok semua. Ngapain malu. Semuanya juga sama-sama punya kontolkan. Yang paling seru kalau kita ngentot rame-rame abis latihan di tengah lapangan basket Vin. Masih keringetan semua tuh. Wuihh, asyik banget Vin…, hehehe,”
“Semuanya ngentot?”
Calvin terangsang banget membayangkan anak-anak tim basket yang ganteng-ganteng dan atletis itu, rame-rame ngentot dalam keadaan tubuh penuh keringat di lapangan basket. Ia jadi enggak sabaran ingin gabung juga.
“Yup,”
“Termasuk si Randy?” tanya Calvin dengan mata mengernyit tak percaya.
Selama ini ia mengenal Randy sebagai seorang anak yang pendiam di sekolah. Kalau ada kegiatan ia paling rajin jadi panitia.
“Hehehe, pastilah. Awalnya sih dia enggak mau, sama kayak gue dan anak-anak yang lain. Tapi sekarang dia paling doyan tuh,”
“Kok bisa begitu sih Ndre?”
“Awalnya dari kegiatan penerimaan anggota baru Vin. Setiap awal semester kan ada seleksi bagi murid-murid yang ingin gabung ke tim basket. Setelah lulus seleksi kemampuan basket yang sangat ketat, calon anggota baru wajib mengikuti inaugurasi. Acaranya kita buat tengah malam di sekolah. Nah disanalah anggota baru diperkenalkan dengan sex sejenis Vin. Kebiasaan seperti ini sudah sejak kapan tahu Vin. Gue juga cuman nerusin doang,”
“Enggak pernah ketahuan?”
“Kalau Tim Basket bikin acara di sekolah, kan urusannya gampang. Guru-guru sudah percaya banget sama kita Vin. Jadi enggak pernah diawasin,”
“Pak Hendro yang jaga sekolahan gimana?”
“Setiap acara dia kita kasih duit. Jadinya dia enggak peduli kita mau ngerjain apa di sekolah. Dia percaya anak-anak Tim Basket bisa jagain sekolah. Lagian kalau kita ada kegiatan di sekolah, dia lebih punya kesempatan untuk tidur pulas di rumahnya di samping sekolahan,”
“Oo, gitu ya. Terus?”
“Di acara inaugurasi itu, setiap anggota baru dilarang untuk berpakaian. Semuanya wajib telanjang bulat selama acara. Mereka dikumpulin di dalam ruangan kelas, diputerin film bokep sambil disuruh minum minuman keras sampai mabok. Elo bayangin aja, cowok horny dalam keadaan mabok, disuruh apa aja kan mau, hehehe. Nah pas begitulah mereka dikerjain sampai senior puas,”
“Diapain aja mereka?”
“Terserah seniornya. Ada yang disuruh ngulum-ngulum batang kontol. Ada yang dientotin. Biasanya kalau kontol mereka gede, para senior paling suka. Enak buat dikulum dan rasanya enak banget kalau kita bisa merasakan kontol gedenya nyodok-nyodok lobang pantat kita. Lo tahu Wisnu kan?”
“Anak Bali yang ganteng itu?”
“Yoi,”
“Taulah. Dia kelas dua kan sekarang, kenapa dia?”
“Tuh anak, paling disukai ama kita-kita. kontolnya gede banget Vin, kalau gua enggak salah panjangnya sampai dua puluh senti. Bentuknya gemuk dan urat-uratnya jelas banget,”
“Gila. Elo pernah ngerasain punya dia juga? enggak sakit?”
“Hehehe, sudah dong. Semua anak basket sudah pernah ngerasain punya dia. Sakit sih awalnya, tapi kalau sudah dikocok di dalem lobang pantat, enak banget Vin. Gua nagih sampai sekarang. “
“Dasar lo. Ngomong-ngomong, waktu elo jadi anggota baru dulu, yang ngerjain elo pertama kali siapa?”
“Si Doni. tahu kan?”
“Doni? Yang mantan Ketua OSIS sebelum elo itu?”
“Yoi. Gue kan di kader ama dia. Doni itu, suka banget manggil gue ke kelas pas sedang belajar. Paling enggak seminggu bisa tiga kali. Alasannya ke guru mau bicarain soal kegiatan sekolah yang diperintahkan Kepsek. Padahal begitu nyampe di ruangan OSIS enggak ada yang dia kerjain selain ngembat lobang pantat gue aja. Kalaupun emang ada rencana kegiatan sekolah, ya dia bicarainnya sambil genjot pantat gue,”
“Dasar. enggak nyangka deh gue. Padahal kan dia pacarnya banyak,”
“Iyalah. Dia doyan banget sama vagina. Semua anak basket juga doyan vagina. Gue aja doyan banget ama vagina Cindy. Tapi gue dan teman-teman gue yang lain juga doyan ama yang namanya lobang pantat cowok ganteng kayak elo,” kata Andre sambil nyengir. Calvin mesem.
“Abisnya lobang pantat tuh rasanya lebih seret dari vagina. Lagian kalau ngembat lobang pantat enggak ada resiko hamil kan. Tapi kalau ngembat vagina harus hati-hati, salah-salah gue disuruh nikah masih sekolah gini. Ngentot ama cewek juga enggak bisa disembarang tempat dan waktu kan. Lagian jarang-jarang cewek yang mau diembat lobang pantatnya. Tapi kalau ngentot ama cowok bisa kapan aja saat nafsu kita naek. Siapa yang curiga kalau dua cowok masuk kamar mandi sekolahan bareng-bareng. Paling dikirain mau kencing doang, padahal mau kencing enak, hehehe,” Calvin nyengir dengan komentar Andre.
“Lo enggak merasa risih ngentot ama cowok Ndre?”
“Awalnya sih iya. Tapi kalau sudah dirangsang yang namanya kontol kan pasti ngaceng. kalau kontol sudah ngaceng ya mau gimana lagi. Lobang apa aja bakalan kena embat,”
“Lo enggak takut apa, kalau keseringan dientot menyebabkan lobang pantat elo dower. Gimana kalau cewek lo tahu?”
“Cuek aja Vin. Cewek enggak doyan ama pantat. Lobang pantat kan buat konsumsi cowok. kalau cewek dia doyannya sama yang ini,” jawab Andre sambil mengacung-ngacungkan kontolnya ke muka Calvin.
“Hehehe, benar juga Ndre,”
“Siniin lobang pantat lo. Gua ingin ngelanjutin, yang tadikan nanggung banget,” kata Andre.
Ia menarik pinggang Calvin dan mendudukkannya berhadapan diatas pangkuannya. Mereka tertawa mesra, saling mengelus tubuh masing-masing, dilanjutkan dengan saling melumat bibir dengan penuh nafsu. Pelan-pelan Calvin menduduki batang kontol Andre yang berdiri tegak sekeras kayu, memasukkannya ke dalam lobang pantatnya. Setelah batang kontol itu masuk seluruhnya, Calvin mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Andre membalas dengan menggoyangkan pantatnya juga. Mereka bergoyang seirama dengan cepat dan keras. Menimbulkan bunyi tepukan yang memenuhi ruangan. Mereka mengerang, mendesah, menjerit.
“Ouhhh… Ouhhh… Lo makin pinter Vin,”
“Ndre… Ohhh… Enak.. Bangethhh… Ndrehhh… Ohhh,”
“Vinhh… Ohhh, … Jangan bilang-bilang… Ihhh… Kehhh… Cindy ya Vinhhh… Shhh…”
“Bilangin… Ohhh… Apahhh… Ndrehhh?”
“Bilangin… Ahhh… Ahhh… kalauhhh… Guehhh… Entot… Elohhh…,”
“Gue bilanginhhh… Ahhh… Shhh… Shhh…,”
“Janganhhh… Donghhh…,”
“Enakahnannn.. Manahhh.. Ama.. vagina.. Cindyhhh..?”
“Enakan vagina cindyhhh… Ouhhh…,”
“Gue bilangin ke diahhh… kalauhh… Gituhhh… Ouh…,”
“Sorryhhh… Salah… Aouhhh… Enakan pantat elohh… Kokgkhhh… Ohhh.. Ohohhh…,”
“Gombal…, ohhh… Yahhh… Disituhhh… Ndrehhh, … Ohhh…,”
“Suer… Ohhh… Ohhh… Ohhh…,”
Rencana belajar bersama terlupakan sudah oleh mereka. Andre akhirnya menginap di rumah Calvin malam itu. Berkali-kali mereka mengulang persenggamaan memuaskan birahi yang menggelora hingga pagi menjelang. Lidah mereka sudah sangat mengenal lekuk tubuh masing-masing. Bergantian mereka saling menindih dan menyelipkan batang kontol di lobang pantat temannya. Saat orgasme datang, sperma remaja mereka berceceran membasahi karpet dan sprei tempat tidur, mengalir turun melalui paha kokoh mereka dari lobang pantat yang mendenyut-denyut.
Mereka baru tersadar bahwa persetubuhan itu harus dituntaskan ketika tiba-tiba telepon genggam Andre berdering di pagi hari. Saat itu Andre sedang menungging pasrah dengan kedua tangan memegang tepi ranjang, sementara diatasnya Calvin sedang merem melek keenakan, pantatnya bergoyang-goyang mengeluar masukkan batang kontolnya di lobang pantat Andre.
“Halohhh,” kata Andre
“Ndre, lo enggak jemput gue pagi ini? Ini sudah hampir jam tujuh tahu,”
“Cindy yah?!! Sorry Cin, shhh… Gue baru bangun nih. Soalnyaahh gue kemaleman abis belajar bareng Calvinshhh. Elo berangkat sendiri aja ya. Soryy banget sayang… Shhh,”
“Lain kali kasih tahu dong, jadinya gue kan telat juga nih. Elo lagi ngapain sih? Kayak kepedesan gitu?!!,”
“Iyah.. Shhh…, pedessshhh. Lagi makan rujak sayanghhshhh…,”
“Makan rujak kok pagi-pagi sayang? Nanti mules perutnya,”
“Iyahh.. Ohh.. Perut guehhh… Rasanya mulas banget.. Nihhh… Shhh..,”
Calvin hanya tersenyum-senyum mendengar pembicaraan Andre melalui telepon. Andre tak berbohong mengatakan bahwa perutnya sedang mules saat itu. Genjotan Calvinlah yang membuat perut Andre terasa mules.
Andre masih berbicara dengan Cindy melalui ponsel. Sementara Calvin tak menghentikan genjotannya. Ia malah semakin mempercepatnya, karena ia ingin segera mencapai orgasmenya. Calvin tak ingin telat tiba di sekolah. Sambil memegang ponsel di tangan kanan, Andre mengocok batang kontol dengan gerakan yang cepat menggunakan tangan kirinya. Tak sampai semenit akhirnya kedua cowok itu mengerang keras. Batang kontol mereka berdenyut-denyut menyemprotkan sperma.
“Ohohohhhrrrhgggh…,” erang Andre dan Calvin berbarengan.
“Kenapa Ndre? Kenapa?” suara Cindy diseberang sana.
“Sudah keluar sayanghhh… Ohhh… sudah keluar…,” desah Andre.
“Sudah keluar? Syukurlah. Lebih longgar kan rasanya?”
“Iya sayanghhh… Ohhh…,”
Cindy mengira Andre sedang buang air akibat mulesnya. Ia tak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada Andre saat itu. Ia tak mengetahui bahwa saat itu kekasihnya sedang menikmati orgasmenya diantara semburan sperma Calvin didalam lobang pantatnya.
“Kalau gitu oke deh. Sampai nanti ya sayang,” Cindy menutup teleponnya di seberang, klick.
Andre langsung melemparkan ponsel ke atas ranjang. Selanjutnya tubuhnya yang berkeringat ambruk diikuti oleh tubuh Calvin yang juga basah kuyup menindihnya. Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hanya deru nafas mereka saja yang terdengar memburu memenuhi ruangan.
aku di perkosa Homo
Cerita nyata ngeseks dengan homo – Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Namun aku berkacamata dan tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tetapi entah kenapa aku banyak disukai pria. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua teman-temanku yang laki-laki mengejek dan berkata bahwa aku Gay.
Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tetapi entah kenapa, hari itu aku memakai baju olah raga, bahkan memakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.
Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah, dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.
Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang pria yang langsung duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup tampan wajahnya dan bertubuh atletis.
“Jalan-jalan yuk..!” ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
“Kemana..?” tanyaku sambil mengikutinya berdiri.
“Kemana saja, dari pada bengong di sini..” sahutnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya, dan pria itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu, dan aku juga belum mengetahui namanya.
“Jalan-jalan yuk..!” ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
“Kemana..?” tanyaku sambil mengikutinya berdiri.
“Kemana saja, dari pada bengong di sini..” sahutnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya, dan pria itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu, dan aku juga belum mengetahui namanya.
“Eh, nama kamu siapa..?” tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.
“Sendy Wiratama..” sahutku.
“Akh.., kayak nama perempuan..” celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
“Kalau aku sih biasa dipanggil uwak..” katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
“Nama kamu bagus..,” aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
“Eh, boleh nggak aku panggil kamu Dik Sendy..? Soalnya kamu pasti lebih muda dari aku..” katanya mengusulkan.
“Sendy Wiratama..” sahutku.
“Akh.., kayak nama perempuan..” celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
“Kalau aku sih biasa dipanggil uwak..” katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
“Nama kamu bagus..,” aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
“Eh, boleh nggak aku panggil kamu Dik Sendy..? Soalnya kamu pasti lebih muda dari aku..” katanya mengusulkan.
Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang sedang lapar. Sambil makan Uwak banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Uwak memang pandai membuat suasana jadi akrab.Selesai makan bubur ayam, aku dan pria itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Uwak yang mengajak pulang lebih dulu.
“Mobilku di parkir disana..” katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.
“Kamu bawa mobil..?” tanyaku heran.
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum..” katanya beralasan,”Kamu sendiri..?” sambungnya.
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
“Ikut aku yuk..!” ajaknya langsung.
Belum juga aku menjawab, Uwak sudah menarik tanganku dan menggandengku menuju ke mobilnya.
“Kamu bawa mobil..?” tanyaku heran.
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum..” katanya beralasan,”Kamu sendiri..?” sambungnya.
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
“Ikut aku yuk..!” ajaknya langsung.
Belum juga aku menjawab, Uwak sudah menarik tanganku dan menggandengku menuju ke mobilnya.
Sebuah mobil Starlet warna hitam ter-paintbrush dengan indah dan tampaknya masih cukup baru. Uwak malah memintaku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Uwak langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan pria itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan Perak, sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Uwak menahan dan memaksaku untuk singgah.
“Ayo..” katanya sambil menarik tanganku.
Uwak memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya, bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa teman yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
“Tunggu sebentar ya..!” kata Uwak setelah membawaku ke dalam sebuah kamar, dan aku yakin kalau ini pasti kamar Uwak.
Uwak memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya, bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa teman yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
“Tunggu sebentar ya..!” kata Uwak setelah membawaku ke dalam sebuah kamar, dan aku yakin kalau ini pasti kamar Uwak.
Sementara pria itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tetapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tetapi bersama empat orang temannya yang sebaya dengannya. Dan pria itu memiliki wajah yang lumayan tampan dan bertubuh kekar. Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar-benar terkejut, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, sehingga aku tidak sempat lagi menyadari.
“Aku dulu.., aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini..” kata Uwak tiba-tiba sambil melepaskan bajunya.
Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Uwak bukan hanya menanggalkan bajunya, tetapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar-debar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Uwak mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali. Baru kali ini aku melihat dada yang begitu besar dan padat. Uwak mendekatiku, tetapi keempat pria lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Uwak bukan hanya menanggalkan bajunya, tetapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar-debar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Uwak mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali. Baru kali ini aku melihat dada yang begitu besar dan padat. Uwak mendekatiku, tetapi keempat pria lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
“Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian..?” aku membentak kaget.
Tetapi tidak ada yang menjawab. Uwak sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tetapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga telentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Uwak saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tetapi keempat pria mengonani penisku. Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat seperti tersengat aliran listrik ketika merasakan jari-jari tangan Uwak menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku.
Tetapi tidak ada yang menjawab. Uwak sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tetapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga telentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Uwak saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tetapi keempat pria mengonani penisku. Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat seperti tersengat aliran listrik ketika merasakan jari-jari tangan Uwak menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku.
Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku dikocok-kocok dengan bergairah oleh Uwak. Aku hanya dapat merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat. Aku benar-benar kewalahan dikeroyok lima orang pria yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tetapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tetapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku. Aku benar-benar tidak berdaya ketika anusku serta mulutku dimasukkan oleh benda tumpul. Saat itu juga aku langsung menyadari kalau mereka Homo.
Sementara itu Uwak menyodomiku dengan gairah yang sangat menggebu-gebu. Anusku terasa tercabik-cabik oleh benda yang sangat besar dan tumpul. Dan salah satu dari teman Uwak memasukkan penisnya ke dalam mulutku, sehingga aku tersedak oleh benda itu. Beberapa detik kemudian aku merasakan sperma Uwak menyemprot ke dalam lubang pantatku, sehingga tubuhku merasa ngilu dan mengejang. Lalu mereka bergantian menyodomiku dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya. Dengan cepatnya teman Uwak menggenjot kembali lubang anusku. Aku merasakan bagaikan tertusuk-tusuk.
Tidak lebih dari dua jam Uwak menyodomiku lagi, dan tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan teman Uwak tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku dapat merasakan semprotan spermanya. Setelah itu teman Uwak yang lain menggenjot kembali lubang pantatku. Setelah mereka berlima baru saja mendapatkan orgasme, mereka menggelimpang di sebelah tubuhku, setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya. Sementara itu aku hanya dapat merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin aku dapat melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini..? Aku hanya dapat berharap mereka cepat-cepat melepaskanku, sehingga aku dapat segera pulang dan melupakan semuanya.
Satpam Gay
“Arrghh, badan pegel banget.” Keluhku setelah setengah hari duduk di depan komputer mengerjakan begitu banyak laporan. Begitu kulihat jam, waktu sudah menunjukan 9.30 malam. Aku kemudian masak mie rebus sebagai makan malam dan setelahnya jalan jalan sebentar di kompleks.
Untungnya kompleks aku ini termasuk yang aman dan layak untuk jalan. Paling tidak tidak ada keributan atau jalanan yang kotor dimana kadang kita harus berhati hati sewaktu jalan. (Terima kasih kepada perusahaanku yang sudah mengontrakan rumah ini untuk aku seorang, dan HARUS atas segala kerja kerasku. Hehe.)
Setelah jalan 10 menitan, aku berpas pasan dengan seorang satpam yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kulihat ia memiliki tubuh yang bagus, tidak kurus ataupun gemuk, dengan tangan yang sedikit berotot.
“Malam, pak.” Kesannya dengan menggunakan logat khas Jawa.
“Malam. Orang baru ya?”
“Ya. Baru aja dipindahin dari komplek sebelah.”
Kita lalu berbincang bincang sambil jalan mengelilingi komplek. Akhirnya tiba di topik yang seru.
“Dah nikah belum?” Tanyaku.
“Belum pak. Masih muda. Nikah masih lama.”
“Berarti kalo kawin sudah dong?”
Dia tertawa, “Enggak lah, pak. Disini saja sudah sibuk tiap hari. Enggak ada waktu lagi. Bapak sendiri dah nikah?”
“Sama, masih jomblo. Kagak ada yang mau sih.”
“Masa sih, pak? Orang cakep, putih gitu masa enggak ada yang mau. Ada yang salah kali?” Dia kemudian merasa yang ia ucapkan sedikit berlebihan. “Eh maaf, pak. Enggak ada maksud menyinggung.”
“Santai aja lagi. Gue orangnya asyik asyik aja. Jangan manggil bapak deh. Panggil aja Jimmy. Namanya siapa?”
“Aldi. Lalu bapak, eh, Jim, tinggal ama siapa?”
“Sendiri. Kenapa? Mau mampir?”
“Lagi ngeronda nih. Ketahuan bisa dimarahin gue.”
“Kagak ada yang tahu kalau gue kagak laporin. Sekalian nemenin ngobrol deh.” Akhirnya ia mengikutiku ke rumah dan kita duduk bersama di beranda sambil kubawakan teh hangat. Lumayan, untuk ademin badan pas lagi musim hujan gini.
“Enak juga ya, Jim. Tinggal sendirian kayak gini. Mau apa aja bebas.” Aku kemudian berpikir, “Wah, kayaknya ini orang mancing nih. Gue coba ah.”
“Mau ngapain emangnya? Sendirian gini mah enggak enak. Masa semuanya sendiri? Kasihan dong ‘adik’nya. Kan butuh teman juga.” Pancingku.
Dia tertawa terbahak. “Kenapa? Lu mau temenin gue? Dah lama gue gak keluarin juga sih.” Dia terdiem sebentar namun tanpa kupedulikan, aku langsung mulai meraba pahanya.
“Jim, jangan deh. Malu juga dilihat orang.”
“Siapa yang mau lihat jam segini? Kita masuk aja yuk.” Kita masuk ke dalam rumah dan kini kulihat dengan jelas raut mukanya yang jantan, kulitnya yang kecoklatan, dengan pipi yang klimis bekas cukurannya. Aku menjadi semakin terangsang melihatnya. Ia kemudian duduk di sofa tamu dimana aku langsung mulai meraba penisnya dari celana seragam satpamnya. “Tenang aja, Di. Jangan gugup dong.”
“Gue belum pernah nih. Enggak tahu harus ngapain.” Begitu mendengarnya, aku langsung mencium bibirnya yang merah itu sambil berusaha membuka bajunya. Setelah terbuka aku lalu mengigit pentilnya secara bergantian sambil membuka bajuku sendiri dan celana seragamnya. Dapat kurasakan betapa tegang penisnya.
Ia lalu berdiri. Jatuhlah celana seragamnya dan dapat kulihat celama dalam berwarna biru gelap miliknya dengan penis yang tegang ke arah kanan. Aku mengocoknya dengan kencang. “Ahhh….Ahh….” Tak sabar aku lalu jongkok di depan penisnya dan kubuka langsung celananya. “Gile, gede banget kontolmu, Di. Ini sih raksasa.” Penisnya memang panjang banget. Setelah kugenggam kuprediksi panjangnya ada sekitar 18an cm. Kuoral kontolnya yang tebal itu. “Enak ‘ngak, Di?” “Eeenakk banget. Ahh…” Kulihat ekspresinya sambil menggigit bibir bawahnya.
“Gantian ya?” Ia lalu jongkok di depanku dan langsung kubuka celana pendekku. Ia terkejut karena kubuka tiba tiba. “Kamu belum disunat ya, Jim? Lucu juga ya kontolmu, panjang lagi.”
“Suka? Isepin dong. Pelan pelan aja, dan jangan pakai gigi ya.”
Sebagai pemula isepannya termasuk hebat. Aku sempat berpikir kalau ternyata dia memang gay lagi. Tapi siapa yang peduli? Kini ia sudah berada dibawahku. “Auww, sakit dong, say.” Giginya mengenai kepala kontolku yang masih sensitive.
Aku kemudian menidurinya di atas lantai dan aku duduk diatasnya. Sambil menciumnya, aku mengocok kontolnya bersama dengan punyaku.
“Ah, enak ya? Kontol lu enak banget, Di.” “Iya, punya lu juga. Gue kocokin ya?” “Kocokin aja. Kita keluar bareng ya?”
Badan kami berdua mulai keringatan. “Ah, Di. Gue mau keluar nih. Cepetan, Di. Ohh…” Akhirnya aku keluar dengan peju yang banyak dan hangat. Aku kemudian mengambil pejuku dan menggunakannya untuk mengocok penisnya. “Oh, genggam yang kuat, Jim lalu kocokin yang keras yaaaa.. Ohh…Ohh…” Akhirnya ia pun mencapai titik orgasmenya yang tertinggi. Beberapa semprotan pejunya bahka mengenai dagu dan rambutku.
Kami berbaring bersama dan kemudian berbilas. Saat bilas aku mengatakan kalau ia boleh datang kapan pun ia mahu. Tentunya ia tidak menolak. Sejak saat itu, kami berdua menjadi lebih dekat walau tidak jadian. Ia masih ingin untuk nikah suatu hari ini nanti. Ya, bagiku selama sudah mendapatkan kepuasan seperti itu, kenapa tidak? Toh, aku menjadi orang pertama yang memerawaninya. ?
End of .
Langganan:
Postingan (Atom)